วันพุธที่ 11 มีนาคม พ.ศ. 2558

Untuk kamu

Dear : Kamu
Assalamualaikum....
Hai, apa kabarmu?
Sebelumnya mohon maaf kalau tetiba saja aku kembali menghubungimu setelah aku blokir fb dan WAmu, memang berat harus melakukannya tapi kalau tidak begitu bagaimana aku bisa ngelupain kamu.
Berkali-kali aku memikirkan haruskah hal ini disampaikan atau tidak, aku sudah memikirkannya amat panjang dan aku memberanikan diri untuk menyampaikannya, aku tak ingin menyesal di kemudian hari, tapi aku juga tak ingin memaksa, ini sepenuhnya murni perasaanku, betul-betul murni perasaanku dan kamu cukup memahaminya setelah itu keputusan sepenuhnya ada di tanganmu.
Sejujurnya, perasaanku ke kamu tidak ada yang berubah, aku memang pernah bilang di WA kalau aku sedikit membencimu, ya itu sebenarnya cara agar bisa lupain kamu dengan mulai membencimu, dan memang mulai sedikit membenci, benci karena tidak juga punya keberanian untuk hubungan kita lebih lanjut malah sebaliknya menghentikannya begitu saja di tengah jalan. Benci karena selalu merasa tidak siap, selalu merasa kecil, selalu merasa pesimis dan merasa paling bodoh, aku mulai membenci kamu yang selalu merasa seperti itu.
Impian masa depan bersama kamu pun tidak ada yang berubah, buat aku tidak ada yang berubah, entah kamu, mungkin saja sudah perlahan-lahan.
Jadi maksud aku menghubungimu lagi, masih bolehkah aku menunggumu lagi?
Aku tahu betul mungkin aku tidak seharusnya begini, pasti kamu akan bilang aku harus mencari yang lain, jangan salah, sudah kucoba, ifat sudah berusaha memperkenalkan aku dengan seseorang tapi aku masih tak bisa, atau kamu akan bilang masih butuh waktu lama sementara kamu juga masih di pku, dari dulu aku kan sudah bilang gak masalah aku nunggu kamu 1 tahun, 2 tahun, asalkan kamu bilang memang mau serius, atau kamu akan bilang kalau kamu sudah tak punya perasaan apa-apa lagi, maka itu sudah cukup untuk aku menyerah. Tapi bila saja, bila saja perasaan itu masih ada, keinginan melalui kehidupan masa depan bersama itu masih ada, aku minta kamu pertimbangkan lagi dan berikan aku jawaban yang bisa kuterima.
Aku sadar sudah sejauh ini dan aku merasa masih buruk dalam segalanya dan aku yakin kamu justru semakin menjadi lebih baik dari sebelumnya, ibadahku, akhlakku, ilmuku, kehidupanku, kebiasaan-kebiasaanku memang masih amat buruk, bila itu semua menjadi pertimbangan yang berat buat kamu, dan aku tidak layak menjadi seseorang di kehidupanmu masa depan, tentu saja aku akan dengan lapang dada menerimanya, semua orang pasti berharap yang baik untuk pasangannya kelak, jadi bila hal demikian menjadi pertimbanganmu maka aku akan baik-baik saja, sebab kamu pantas mendapat yang lebih baik, dan bila dipaksakan pun tidak akan berkah.
Jadi, aku minta untuk yang terakhir kalinya, bolehkah aku menunggumu lagi? Dan apa kamu mau mempertimbangkan lagi tentang kita?
Berikan aku jawaban yang layak sehingga aku bisa ikhlas menerima jawaban apapun darimu.. dan bila jawaban paling tidak enak sekalipun yang aku terima aku tidak akan lagi berkomentar dan akan melepasmu dengan ikhlas.

Terimakasih.
Wassalam...

Nay.


วันอังคารที่ 2 ธันวาคม พ.ศ. 2557

Pura-pura

Iyah, aku harus berpura-pura, sebab terkadang jujur justru membuatmu lebih sakit.
aku harus berpura-pura tak lagi menyukaimu
aku harus berpura-pura membencimu
aku harus berpura-pura baik-baik saja

aku harus menyembunyikan perasaan yang masih ada ini.
sebab dengan begitu aku bisa terus bersamamu...

วันจันทร์ที่ 17 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

Kumohon tolonglah...


Ini tentangku dan seseorang yang mengisi hidupku selama 4 tahun belakangan ini, tentang impian-impian yang tidak menemukan jalan untuk jadi nyata. Tapi aku tidak goyah dan melepaskannya begitu saja, aku tahu suatu saat Tuhan akan mempertemukan kami dengan cara yang lebih manis.
Ini tentangku dan seseorang yang namanya kujadikan bait akhir puisiku, yang selalu tahu caranya membuatku marah dan tertawa. Tapi dia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya kuinginkan dan itulah yang akhirnya menjadi alasan aku meninggalkannya dan dia pun meninggalkanku, kami saling melepaskan diri dengan paksa.
Ini masih tentangku dan seseorang yang memiliki banyak hal aneh padanya, selalu berbeda dari kebanyakan orang, tapi itu juga yang menjadi alasan aku ingin selalu bersamanya tapi sekali lagi dia tidak pernah benar-benar tahu keinginanku yang sebenarnya. Akhirnya kami saling melepaskan genggaman tangan dengan tangis yang tak menemukan cara untuk berhenti.
Dalam beberapa waktu, aku masih menjadikan dia bagian yang selalu ada dalam sajak-sajakku, dalam puisiku, dalam tulisan kacauku, karenanya sajakku yang mati hidup kembali, karenanya puisiku yang hambar manis kembali rasanya. Tapi itulah, dia hanya tertinggal dalam sajak dan puisiku, tapi tidak pernah benar-benar tinggal bersamaku.
Jika saja aku punya kesempatan, jika saja... aku akan benar-benar membuat dia mengerti bahwa aku ingin bersamanya sampai akhir, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya, tidak dengan yang lain.
Apa Tuhan akan memberiku kesempatan? Tolonglah kumohon...



17-11-14

diam-diam aku memperhatikanmu dari kejauhan, tidakkah kau sadar?
ternyata kau memang baik-baik saja, sepertinya tak pernah ada yang terjadi
lalu bagaimana aku?
apa hanya aku yang kesakitan sendiri?
apa hanya aku yang merasakan sakit ini?

kau memang selalu baik-baik saja.
dan itu melegakan, tak membuatku khawatir.
maka aku hanya harus belajar sepertimu
baik-baik saja. iya kan?


วันอาทิตย์ที่ 16 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

apa kau baik-baik saja?

hai, apa kau baik-baik saja?
sejujurnya aku sangat tidak baik. :'(
aku tak tahu harus bagaimana menanggungnya.
meredam rasa rinduku padamu
aku kehilangan cara mengatasi hatiku.

apa benar kau baik-baik saja?
aku sungguh tak baik-baik saja.
bagaimana bisa aku baik sementara perasaanku terluka
menyimpan rindu yang terus ingin meledak

bagaimana kau bisa menanggungnya?

วันเสาร์ที่ 15 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

16 November 2014


Waktu tidak pernah berjalan mundur, seperti itu pula perjalanan kita yang terus maju sampai akhirnya menemukan titik untuk berhenti.
Masih ingat pertemuan pertama kita?
Di kaliurang ketika MH, aku perempuan sendirian ke tempat MH aiman dan syafii bareng atin, dan disanalah pertama kalinya kita bertemu... saat itu sejujurnya aku sudah merasakan hal yang berbeda, hal yang aneh yang tiba-tiba membuatku gugup. Tapi aku tidak berusaha mencari tahu kenapa hal itu terjadi.
Masih waktu MH, aku jatuh sakit dan rawat inap di PKU, ketika itu teman-teman putra banyak yang datang menjenguk, dan entah kenapa aku mulai merasa aneh, tiba-tiba saja aku ingin laki-laki yang aneh yang aku temui di kaliurang itu juga menjengukku, tapi siapa pula bahkan aku tak tahu siapa namanya. Sampai akhirnya sadam datang mnejenguk dan menjagaku dari pagi sampai sore, dia bercerita banyak hal tentang putm putra, tentang suasana disana, tentang MH nya, sampai akhirnya sampailah saat itu, ia bercerita tentang teman-teman putra, ia sebutkan keunikan satu-satu tiap anak sambil menunjuk foto orang yang bersangkutan di laptopnya. Dan saat dia menyebutkan ada seorang anak yang aneh, beda dari yang lain, sukanya baca buku dan menyendiri, tapi kalau diskusi dia pintar, sadam menyebutnya anak autis. Sebelum dia menunjukkan fotonya, entah kenapa hal aneh lain keluar dari lidahku. “menarik, bikin penasaran aja, jadi pengen kenal”, kalimat itulah yang keluar begitu saja, padahal masih tidak tahu siapa orangnya. Lalu sadam menunjukkan foto anak autis itu, dan tentu saja aku tersenyum, ternyata anak autis itu adalah lelaki aneh yang aku lihat di kaliurang. Tapi sadam langsung bilang kalau anak autis itu sepertinya tidak tertarik dekat dengan perempuan, ya ampun sadam, emang siapa juga yang mau deketin, Cuma tertarik aja pengen kenal, sepertinya akan jadi teman yang keren untuk berbagi.
Masih ingat surat pertamaku?
Ya Allah itu surat pertama kalinya seumur hidup, untuk laki-laki lagi. Sejak dulu walau bagaimanapun aku menyukai seseorang tapi aku tak pernah berbuat apa-apa, bahkan dulu ketka masih di pondok suka sama kakak kelas sampai 3 tahun lebih, dan hanya orang dekatku saja yang tahu, aku tak pernah berani bilang, memberikan tanda atau apalah, apalagi surat pengakuan?
Tapi berbeda untuk anak autis itu, aku berdo’a sama Allah, dan entah kenapa aku jadi begitu berani, aku tulis berulang-ulang sampai akhirnya aku kirimkan ke emailnya, setelah itu sepanjang waktu aku merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
16 nov 2010,
Aku di kereta menuju jawa timur, dan pesan dari anak autis itu masuk.
“kau ibarat pelangi, indah dan tinggi”
Hanya itu kalimat yang kuingat dari pesan masuknya.
Saat itu dia tahu betapa bahagianya aku menerima pesannya setelah cukup lama menunggu jawaban surat yang kukirim.
Ingat pertemuan pertama kita berdua saja?
Di dekat shelter malioboro, kita naik taxi berdua, saat itu aku mau pulang dan kau menemaniku menunggu kereta, kita bermain-main dengan anak kecil sambil menunjuk gambar yang ada di buku yang kau bawa. “dunia shopie”. Saat itu aku sangat bahagia, aku bahkan lupa kalau aku gugup didekatmu.
Masih ingat pertemuan kita yang kedua kalinya?
Kita bertemu di shopping, dan untuk pertama kalinya kau membelikanku buku, aku lupa judul bukunya, beberapa hari aku mengingatnya tapi tetap saja lupa. Mungkin kau ingat? Buku yang bercerita tentang dokter israel yang mengobati muslim di palestina.
Lalu kita pergi ke toko baju, kau memintaku mencarikan baju batik untuk pulang, juga batik untuk orangtuamu. Aku merasa saat itu kita begitu serasi, hehe...
Lalu ada pertemuan-pertemuan yang lain, di shopping saat hujan deras, aku tidak mau mengingatnya karena saat itu kau begitu kejam, ingin kita putus. Tapi ternyata tidak jadi. Huft. Juga saat kau mengajakku ke hotel ikut pelatihan menulis, kita dikira pasangan suami istri (amin), walaupun saat itu kau sedang sakit, maaf ya karena ingin ikut pelatihan itu kau jadi memaksakan diri. Dan pertemuan yang kejam lagi, kau pura-pura baik datang ke persada, malamnya justru kau minta putus. Kenapa begitu sulit membuat hubungan kita sampai pada halal?
Terimakasih untuk pertemuan-pertemuan yang membahagiakan itu, yang membuat gugup, yang membuat malu, yang membuat geli dan senyum sendiri. Aku bisa mengingatnya dengan cukup baik karena itu bersamamu.
Saat ini bahkan sudah 4 tahun, semua yang pernah kita lalui sudah lewat 4 tahun yang lalu, sementara di tahun keempat ini justru semua harapan dan rencana kita hilang begitu saja.
Tidak bisakah kita memulainya dari rencana semula?
Aku masih berharap kaulah yang kelak jadi suamiku...
Tidak bisakah itu terjadi?
Cukup jangan menyerah, ibuku bahkan bilang kalau kamu tidak menyerah begitu saja dan memang bilang mau serius berapa tahun pun akan dibiarkan aku menunggumu.
Hanya saja, kau terlalu cepat menyerah..
Apa benar kau tidak berharap aku jadi ibu anak-anakmu lagi?

:’( 

วันพุธที่ 12 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

13-11-14

Hai apakabar lelaki yang menghapus kabut soreku..
waktu berjalan dengan cukup baik akhir-akhir ini, aku menjauhkan diri dari keramaian dan dari dunia luar dan ternyata perlahan sakitnya memulih seiring berjalan.
tidak mudah memang, aku hanya perlu mengobati kekecewaanku padamu dan rasa sakit atas yang terjadi pada kita selama ini. tapi, ini hanya upaya menyembuhkan luka.

perasaanku tetap saja sama..