วันจันทร์ที่ 17 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

Kumohon tolonglah...


Ini tentangku dan seseorang yang mengisi hidupku selama 4 tahun belakangan ini, tentang impian-impian yang tidak menemukan jalan untuk jadi nyata. Tapi aku tidak goyah dan melepaskannya begitu saja, aku tahu suatu saat Tuhan akan mempertemukan kami dengan cara yang lebih manis.
Ini tentangku dan seseorang yang namanya kujadikan bait akhir puisiku, yang selalu tahu caranya membuatku marah dan tertawa. Tapi dia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya kuinginkan dan itulah yang akhirnya menjadi alasan aku meninggalkannya dan dia pun meninggalkanku, kami saling melepaskan diri dengan paksa.
Ini masih tentangku dan seseorang yang memiliki banyak hal aneh padanya, selalu berbeda dari kebanyakan orang, tapi itu juga yang menjadi alasan aku ingin selalu bersamanya tapi sekali lagi dia tidak pernah benar-benar tahu keinginanku yang sebenarnya. Akhirnya kami saling melepaskan genggaman tangan dengan tangis yang tak menemukan cara untuk berhenti.
Dalam beberapa waktu, aku masih menjadikan dia bagian yang selalu ada dalam sajak-sajakku, dalam puisiku, dalam tulisan kacauku, karenanya sajakku yang mati hidup kembali, karenanya puisiku yang hambar manis kembali rasanya. Tapi itulah, dia hanya tertinggal dalam sajak dan puisiku, tapi tidak pernah benar-benar tinggal bersamaku.
Jika saja aku punya kesempatan, jika saja... aku akan benar-benar membuat dia mengerti bahwa aku ingin bersamanya sampai akhir, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya, tidak dengan yang lain.
Apa Tuhan akan memberiku kesempatan? Tolonglah kumohon...



17-11-14

diam-diam aku memperhatikanmu dari kejauhan, tidakkah kau sadar?
ternyata kau memang baik-baik saja, sepertinya tak pernah ada yang terjadi
lalu bagaimana aku?
apa hanya aku yang kesakitan sendiri?
apa hanya aku yang merasakan sakit ini?

kau memang selalu baik-baik saja.
dan itu melegakan, tak membuatku khawatir.
maka aku hanya harus belajar sepertimu
baik-baik saja. iya kan?


วันอาทิตย์ที่ 16 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

apa kau baik-baik saja?

hai, apa kau baik-baik saja?
sejujurnya aku sangat tidak baik. :'(
aku tak tahu harus bagaimana menanggungnya.
meredam rasa rinduku padamu
aku kehilangan cara mengatasi hatiku.

apa benar kau baik-baik saja?
aku sungguh tak baik-baik saja.
bagaimana bisa aku baik sementara perasaanku terluka
menyimpan rindu yang terus ingin meledak

bagaimana kau bisa menanggungnya?

วันเสาร์ที่ 15 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

16 November 2014


Waktu tidak pernah berjalan mundur, seperti itu pula perjalanan kita yang terus maju sampai akhirnya menemukan titik untuk berhenti.
Masih ingat pertemuan pertama kita?
Di kaliurang ketika MH, aku perempuan sendirian ke tempat MH aiman dan syafii bareng atin, dan disanalah pertama kalinya kita bertemu... saat itu sejujurnya aku sudah merasakan hal yang berbeda, hal yang aneh yang tiba-tiba membuatku gugup. Tapi aku tidak berusaha mencari tahu kenapa hal itu terjadi.
Masih waktu MH, aku jatuh sakit dan rawat inap di PKU, ketika itu teman-teman putra banyak yang datang menjenguk, dan entah kenapa aku mulai merasa aneh, tiba-tiba saja aku ingin laki-laki yang aneh yang aku temui di kaliurang itu juga menjengukku, tapi siapa pula bahkan aku tak tahu siapa namanya. Sampai akhirnya sadam datang mnejenguk dan menjagaku dari pagi sampai sore, dia bercerita banyak hal tentang putm putra, tentang suasana disana, tentang MH nya, sampai akhirnya sampailah saat itu, ia bercerita tentang teman-teman putra, ia sebutkan keunikan satu-satu tiap anak sambil menunjuk foto orang yang bersangkutan di laptopnya. Dan saat dia menyebutkan ada seorang anak yang aneh, beda dari yang lain, sukanya baca buku dan menyendiri, tapi kalau diskusi dia pintar, sadam menyebutnya anak autis. Sebelum dia menunjukkan fotonya, entah kenapa hal aneh lain keluar dari lidahku. “menarik, bikin penasaran aja, jadi pengen kenal”, kalimat itulah yang keluar begitu saja, padahal masih tidak tahu siapa orangnya. Lalu sadam menunjukkan foto anak autis itu, dan tentu saja aku tersenyum, ternyata anak autis itu adalah lelaki aneh yang aku lihat di kaliurang. Tapi sadam langsung bilang kalau anak autis itu sepertinya tidak tertarik dekat dengan perempuan, ya ampun sadam, emang siapa juga yang mau deketin, Cuma tertarik aja pengen kenal, sepertinya akan jadi teman yang keren untuk berbagi.
Masih ingat surat pertamaku?
Ya Allah itu surat pertama kalinya seumur hidup, untuk laki-laki lagi. Sejak dulu walau bagaimanapun aku menyukai seseorang tapi aku tak pernah berbuat apa-apa, bahkan dulu ketka masih di pondok suka sama kakak kelas sampai 3 tahun lebih, dan hanya orang dekatku saja yang tahu, aku tak pernah berani bilang, memberikan tanda atau apalah, apalagi surat pengakuan?
Tapi berbeda untuk anak autis itu, aku berdo’a sama Allah, dan entah kenapa aku jadi begitu berani, aku tulis berulang-ulang sampai akhirnya aku kirimkan ke emailnya, setelah itu sepanjang waktu aku merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
16 nov 2010,
Aku di kereta menuju jawa timur, dan pesan dari anak autis itu masuk.
“kau ibarat pelangi, indah dan tinggi”
Hanya itu kalimat yang kuingat dari pesan masuknya.
Saat itu dia tahu betapa bahagianya aku menerima pesannya setelah cukup lama menunggu jawaban surat yang kukirim.
Ingat pertemuan pertama kita berdua saja?
Di dekat shelter malioboro, kita naik taxi berdua, saat itu aku mau pulang dan kau menemaniku menunggu kereta, kita bermain-main dengan anak kecil sambil menunjuk gambar yang ada di buku yang kau bawa. “dunia shopie”. Saat itu aku sangat bahagia, aku bahkan lupa kalau aku gugup didekatmu.
Masih ingat pertemuan kita yang kedua kalinya?
Kita bertemu di shopping, dan untuk pertama kalinya kau membelikanku buku, aku lupa judul bukunya, beberapa hari aku mengingatnya tapi tetap saja lupa. Mungkin kau ingat? Buku yang bercerita tentang dokter israel yang mengobati muslim di palestina.
Lalu kita pergi ke toko baju, kau memintaku mencarikan baju batik untuk pulang, juga batik untuk orangtuamu. Aku merasa saat itu kita begitu serasi, hehe...
Lalu ada pertemuan-pertemuan yang lain, di shopping saat hujan deras, aku tidak mau mengingatnya karena saat itu kau begitu kejam, ingin kita putus. Tapi ternyata tidak jadi. Huft. Juga saat kau mengajakku ke hotel ikut pelatihan menulis, kita dikira pasangan suami istri (amin), walaupun saat itu kau sedang sakit, maaf ya karena ingin ikut pelatihan itu kau jadi memaksakan diri. Dan pertemuan yang kejam lagi, kau pura-pura baik datang ke persada, malamnya justru kau minta putus. Kenapa begitu sulit membuat hubungan kita sampai pada halal?
Terimakasih untuk pertemuan-pertemuan yang membahagiakan itu, yang membuat gugup, yang membuat malu, yang membuat geli dan senyum sendiri. Aku bisa mengingatnya dengan cukup baik karena itu bersamamu.
Saat ini bahkan sudah 4 tahun, semua yang pernah kita lalui sudah lewat 4 tahun yang lalu, sementara di tahun keempat ini justru semua harapan dan rencana kita hilang begitu saja.
Tidak bisakah kita memulainya dari rencana semula?
Aku masih berharap kaulah yang kelak jadi suamiku...
Tidak bisakah itu terjadi?
Cukup jangan menyerah, ibuku bahkan bilang kalau kamu tidak menyerah begitu saja dan memang bilang mau serius berapa tahun pun akan dibiarkan aku menunggumu.
Hanya saja, kau terlalu cepat menyerah..
Apa benar kau tidak berharap aku jadi ibu anak-anakmu lagi?

:’( 

วันพุธที่ 12 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

13-11-14

Hai apakabar lelaki yang menghapus kabut soreku..
waktu berjalan dengan cukup baik akhir-akhir ini, aku menjauhkan diri dari keramaian dan dari dunia luar dan ternyata perlahan sakitnya memulih seiring berjalan.
tidak mudah memang, aku hanya perlu mengobati kekecewaanku padamu dan rasa sakit atas yang terjadi pada kita selama ini. tapi, ini hanya upaya menyembuhkan luka.

perasaanku tetap saja sama..

วันอาทิตย์ที่ 9 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

10 November


Bukankah menarik bulan ini, aku selalu meletakannya dalam pengingat handphone, tepat di tanggal 16, aku hanya ingin merayakan hari di 4 tahun silam, ketika semuanya bermula dari nol dan tidak terjadi apapun. ketika aku amat bahagia menerima pesan pertamamu, ketika kita mengikat janji dengan waktu, dan kita memulai hal-hal manis hingga menjadi cerita 4 tahun yang berarti. 
apa kau menyesal? 
sampai hari ini satu hal yang amat kusesalkan, aku tidak pernah benar-benar mengerti hatimu, mengerti situasimu dan mengerti mengapa akhirnya kau harus menyerah. 
aku ingin mengerti semuanya sehingga aku tak khawatir lagi bila nanti kita memang tak bisa bersama lagi. 
tapi kau tidak pernah menjelaskan, tidak pernah memberi tahu, bahkan tak pernah memberikanku kejujuran apa yang hatimu rasakan. 
hari ini, bulan ini begitu penuh kesedihan, hujan yang mendera selama satu bulan, hari-hari yang mendung, dan kita yang tak juga menemukan jalan, aku terus mencari cahaya sementara kau sudah berhenti di tengah jalan. 
sejujurnya, apa kau mencintaiku? 
aku tidak yakin dengan 4 tahun kita pada akhirnya bila kau tak pernah benar-benar memberitahuku. 
lalu apa selama ini hanya sebuah cerita dalam novel? atau puisi yang kau tulis? 
apa gunanya kita selama waktu yang panjang itu, tolong jelaskan padaku. 

aku ingin tahu. 

10-11-14


Hai hai jelek...
6 hari lagi, ingatkan?
Seharusnya kita bisa tersenyum bahagia di hari itu, tapi karenamu, karena kau terlalu mudah menyerah begitu saja dan membuatku marah akhirnya aku emosi dan meninggalkanmu tanpa pikir panjang.
Sejujurnya aku sangat marah dan kesal padamu, tapi aku lebih kesal pada diriku sendiri karena begitu saja marah dan meninggalkanmu dan setelahnya kamu tahu, aku memikirkanmu terus menerus bahkan menganggu aktivitas mengajarku, aku sungguh-sungguh ingin kita bersama lagi.
Adakah aku punya kesempatan untuk itu?

Tidak sekarang, tapi suatu hari nanti di saat yang benar-benar tepat. 

วันเสาร์ที่ 8 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

07-11-14



Hai jelek, aku rindu, sangat rindu.
Bisakah suatu hari nanti kita bertemu lagi?
Hingga sampai saat itu, aku akan tetap menunggu, masih menyimpan perasaan ini untukmu.
Bagaimana denganmu?
Kau sudah melupakanku?

:’( 

08-11-14


Hai, apakabar jelek?
Waktu genap 4 tahun kita semakin dekat, apa kau juga menghitungnya? Tidak mungkin, kau bahkan selalu ceroboh dan lupa dengan banyak hal, bagaimana mungkin meluangkan waktu untuk mengingat ada apa di bulan ini apalagi saat ini sudah bukan hal yang penting lagi untukmu.
Hey jelek,
Jangan merasa bersalah yang amat besar, aku akan menganggap semuanya baik-baik saja, tidak mengapa hari ini kita berakhir dengan tak lagi mengenal satu sama lain dan saling menghindari seperti orang asing, sungguh tidak mengapa.
Tapi, besok, entah kapan, suatu hari nanti di waktu yang baik, yang tepat, kita harus bertemu lagi, oke janji?
Kita harus bertemu lagi hun...
Jangan sampai kita menyesal nantinya karena tak pernah bisa bertemu lagi.


Aku merindukanmu.