วันเสาร์ที่ 15 พฤศจิกายน พ.ศ. 2557

16 November 2014


Waktu tidak pernah berjalan mundur, seperti itu pula perjalanan kita yang terus maju sampai akhirnya menemukan titik untuk berhenti.
Masih ingat pertemuan pertama kita?
Di kaliurang ketika MH, aku perempuan sendirian ke tempat MH aiman dan syafii bareng atin, dan disanalah pertama kalinya kita bertemu... saat itu sejujurnya aku sudah merasakan hal yang berbeda, hal yang aneh yang tiba-tiba membuatku gugup. Tapi aku tidak berusaha mencari tahu kenapa hal itu terjadi.
Masih waktu MH, aku jatuh sakit dan rawat inap di PKU, ketika itu teman-teman putra banyak yang datang menjenguk, dan entah kenapa aku mulai merasa aneh, tiba-tiba saja aku ingin laki-laki yang aneh yang aku temui di kaliurang itu juga menjengukku, tapi siapa pula bahkan aku tak tahu siapa namanya. Sampai akhirnya sadam datang mnejenguk dan menjagaku dari pagi sampai sore, dia bercerita banyak hal tentang putm putra, tentang suasana disana, tentang MH nya, sampai akhirnya sampailah saat itu, ia bercerita tentang teman-teman putra, ia sebutkan keunikan satu-satu tiap anak sambil menunjuk foto orang yang bersangkutan di laptopnya. Dan saat dia menyebutkan ada seorang anak yang aneh, beda dari yang lain, sukanya baca buku dan menyendiri, tapi kalau diskusi dia pintar, sadam menyebutnya anak autis. Sebelum dia menunjukkan fotonya, entah kenapa hal aneh lain keluar dari lidahku. “menarik, bikin penasaran aja, jadi pengen kenal”, kalimat itulah yang keluar begitu saja, padahal masih tidak tahu siapa orangnya. Lalu sadam menunjukkan foto anak autis itu, dan tentu saja aku tersenyum, ternyata anak autis itu adalah lelaki aneh yang aku lihat di kaliurang. Tapi sadam langsung bilang kalau anak autis itu sepertinya tidak tertarik dekat dengan perempuan, ya ampun sadam, emang siapa juga yang mau deketin, Cuma tertarik aja pengen kenal, sepertinya akan jadi teman yang keren untuk berbagi.
Masih ingat surat pertamaku?
Ya Allah itu surat pertama kalinya seumur hidup, untuk laki-laki lagi. Sejak dulu walau bagaimanapun aku menyukai seseorang tapi aku tak pernah berbuat apa-apa, bahkan dulu ketka masih di pondok suka sama kakak kelas sampai 3 tahun lebih, dan hanya orang dekatku saja yang tahu, aku tak pernah berani bilang, memberikan tanda atau apalah, apalagi surat pengakuan?
Tapi berbeda untuk anak autis itu, aku berdo’a sama Allah, dan entah kenapa aku jadi begitu berani, aku tulis berulang-ulang sampai akhirnya aku kirimkan ke emailnya, setelah itu sepanjang waktu aku merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
16 nov 2010,
Aku di kereta menuju jawa timur, dan pesan dari anak autis itu masuk.
“kau ibarat pelangi, indah dan tinggi”
Hanya itu kalimat yang kuingat dari pesan masuknya.
Saat itu dia tahu betapa bahagianya aku menerima pesannya setelah cukup lama menunggu jawaban surat yang kukirim.
Ingat pertemuan pertama kita berdua saja?
Di dekat shelter malioboro, kita naik taxi berdua, saat itu aku mau pulang dan kau menemaniku menunggu kereta, kita bermain-main dengan anak kecil sambil menunjuk gambar yang ada di buku yang kau bawa. “dunia shopie”. Saat itu aku sangat bahagia, aku bahkan lupa kalau aku gugup didekatmu.
Masih ingat pertemuan kita yang kedua kalinya?
Kita bertemu di shopping, dan untuk pertama kalinya kau membelikanku buku, aku lupa judul bukunya, beberapa hari aku mengingatnya tapi tetap saja lupa. Mungkin kau ingat? Buku yang bercerita tentang dokter israel yang mengobati muslim di palestina.
Lalu kita pergi ke toko baju, kau memintaku mencarikan baju batik untuk pulang, juga batik untuk orangtuamu. Aku merasa saat itu kita begitu serasi, hehe...
Lalu ada pertemuan-pertemuan yang lain, di shopping saat hujan deras, aku tidak mau mengingatnya karena saat itu kau begitu kejam, ingin kita putus. Tapi ternyata tidak jadi. Huft. Juga saat kau mengajakku ke hotel ikut pelatihan menulis, kita dikira pasangan suami istri (amin), walaupun saat itu kau sedang sakit, maaf ya karena ingin ikut pelatihan itu kau jadi memaksakan diri. Dan pertemuan yang kejam lagi, kau pura-pura baik datang ke persada, malamnya justru kau minta putus. Kenapa begitu sulit membuat hubungan kita sampai pada halal?
Terimakasih untuk pertemuan-pertemuan yang membahagiakan itu, yang membuat gugup, yang membuat malu, yang membuat geli dan senyum sendiri. Aku bisa mengingatnya dengan cukup baik karena itu bersamamu.
Saat ini bahkan sudah 4 tahun, semua yang pernah kita lalui sudah lewat 4 tahun yang lalu, sementara di tahun keempat ini justru semua harapan dan rencana kita hilang begitu saja.
Tidak bisakah kita memulainya dari rencana semula?
Aku masih berharap kaulah yang kelak jadi suamiku...
Tidak bisakah itu terjadi?
Cukup jangan menyerah, ibuku bahkan bilang kalau kamu tidak menyerah begitu saja dan memang bilang mau serius berapa tahun pun akan dibiarkan aku menunggumu.
Hanya saja, kau terlalu cepat menyerah..
Apa benar kau tidak berharap aku jadi ibu anak-anakmu lagi?

:’( 

0 ความคิดเห็น:

แสดงความคิดเห็น