Waktu tidak pernah berjalan
mundur, seperti itu pula perjalanan kita yang terus maju sampai akhirnya
menemukan titik untuk berhenti.
Masih ingat pertemuan
pertama kita?
Di kaliurang ketika MH, aku
perempuan sendirian ke tempat MH aiman dan syafii bareng atin, dan disanalah
pertama kalinya kita bertemu... saat itu sejujurnya aku sudah merasakan hal
yang berbeda, hal yang aneh yang tiba-tiba membuatku gugup. Tapi aku tidak
berusaha mencari tahu kenapa hal itu terjadi.
Masih waktu MH, aku jatuh
sakit dan rawat inap di PKU, ketika itu teman-teman putra banyak yang datang
menjenguk, dan entah kenapa aku mulai merasa aneh, tiba-tiba saja aku ingin
laki-laki yang aneh yang aku temui di kaliurang itu juga menjengukku, tapi
siapa pula bahkan aku tak tahu siapa namanya. Sampai akhirnya sadam datang
mnejenguk dan menjagaku dari pagi sampai sore, dia bercerita banyak hal tentang
putm putra, tentang suasana disana, tentang MH nya, sampai akhirnya sampailah
saat itu, ia bercerita tentang teman-teman putra, ia sebutkan keunikan
satu-satu tiap anak sambil menunjuk foto orang yang bersangkutan di laptopnya. Dan
saat dia menyebutkan ada seorang anak yang aneh, beda dari yang lain, sukanya
baca buku dan menyendiri, tapi kalau diskusi dia pintar, sadam menyebutnya anak
autis. Sebelum dia menunjukkan fotonya, entah kenapa hal aneh lain keluar dari
lidahku. “menarik, bikin penasaran aja, jadi pengen kenal”, kalimat itulah yang
keluar begitu saja, padahal masih tidak tahu siapa orangnya. Lalu sadam
menunjukkan foto anak autis itu, dan tentu saja aku tersenyum, ternyata anak
autis itu adalah lelaki aneh yang aku lihat di kaliurang. Tapi sadam langsung
bilang kalau anak autis itu sepertinya tidak tertarik dekat dengan perempuan,
ya ampun sadam, emang siapa juga yang mau deketin, Cuma tertarik aja pengen
kenal, sepertinya akan jadi teman yang keren untuk berbagi.
Masih ingat surat pertamaku?
Ya Allah itu surat pertama
kalinya seumur hidup, untuk laki-laki lagi. Sejak dulu walau bagaimanapun aku
menyukai seseorang tapi aku tak pernah berbuat apa-apa, bahkan dulu ketka masih
di pondok suka sama kakak kelas sampai 3 tahun lebih, dan hanya orang dekatku
saja yang tahu, aku tak pernah berani bilang, memberikan tanda atau apalah,
apalagi surat pengakuan?
Tapi berbeda untuk anak
autis itu, aku berdo’a sama Allah, dan entah kenapa aku jadi begitu berani, aku
tulis berulang-ulang sampai akhirnya aku kirimkan ke emailnya, setelah itu
sepanjang waktu aku merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
16 nov 2010,
Aku di kereta menuju jawa
timur, dan pesan dari anak autis itu masuk.
“kau ibarat pelangi, indah
dan tinggi”
Hanya itu kalimat yang
kuingat dari pesan masuknya.
Saat itu dia tahu betapa
bahagianya aku menerima pesannya setelah cukup lama menunggu jawaban surat yang
kukirim.
Ingat pertemuan pertama kita
berdua saja?
Di dekat shelter malioboro,
kita naik taxi berdua, saat itu aku mau pulang dan kau menemaniku menunggu
kereta, kita bermain-main dengan anak kecil sambil menunjuk gambar yang ada di
buku yang kau bawa. “dunia shopie”. Saat itu aku sangat bahagia, aku bahkan
lupa kalau aku gugup didekatmu.
Masih ingat pertemuan kita
yang kedua kalinya?
Kita bertemu di shopping,
dan untuk pertama kalinya kau membelikanku buku, aku lupa judul bukunya,
beberapa hari aku mengingatnya tapi tetap saja lupa. Mungkin kau ingat? Buku yang
bercerita tentang dokter israel yang mengobati muslim di palestina.
Lalu kita pergi ke toko
baju, kau memintaku mencarikan baju batik untuk pulang, juga batik untuk
orangtuamu. Aku merasa saat itu kita begitu serasi, hehe...
Lalu ada pertemuan-pertemuan
yang lain, di shopping saat hujan deras, aku tidak mau mengingatnya karena saat
itu kau begitu kejam, ingin kita putus. Tapi ternyata tidak jadi. Huft. Juga saat
kau mengajakku ke hotel ikut pelatihan menulis, kita dikira pasangan suami
istri (amin), walaupun saat itu kau sedang sakit, maaf ya karena ingin ikut
pelatihan itu kau jadi memaksakan diri. Dan pertemuan yang kejam lagi, kau
pura-pura baik datang ke persada, malamnya justru kau minta putus. Kenapa begitu
sulit membuat hubungan kita sampai pada halal?
Terimakasih untuk
pertemuan-pertemuan yang membahagiakan itu, yang membuat gugup, yang membuat
malu, yang membuat geli dan senyum sendiri. Aku bisa mengingatnya dengan cukup
baik karena itu bersamamu.
Saat ini bahkan sudah 4
tahun, semua yang pernah kita lalui sudah lewat 4 tahun yang lalu, sementara di
tahun keempat ini justru semua harapan dan rencana kita hilang begitu saja.
Tidak bisakah kita
memulainya dari rencana semula?
Aku masih berharap kaulah
yang kelak jadi suamiku...
Tidak bisakah itu terjadi?
Cukup jangan menyerah, ibuku
bahkan bilang kalau kamu tidak menyerah begitu saja dan memang bilang mau
serius berapa tahun pun akan dibiarkan aku menunggumu.
Hanya saja, kau terlalu
cepat menyerah..
Apa benar kau tidak berharap
aku jadi ibu anak-anakmu lagi?
:’(



0 ความคิดเห็น:
แสดงความคิดเห็น